Jakarta, CNN Indonesia --
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini mendesak Kementerian Kesehatan (Kemenkes) segera turun tangan menangani lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Barat (Kalbar).
Yahya menyampaikan keprihatinannya atas dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang makin meluas terhadap kesehatan masyarakat. ISPA disebut telah mencapai 165 ribu kasus akibat karhutla di Kalbar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemenkes perlu turun tangan untuk menangani dampak karhutla terhadap munculnya penyakit ISPA yang sudah mencapai 165 ribu kasus," kata Yahya pada Minggu (30/8), diwartakan Detik.
Yahya meminta Kemenkes bersama pemerintah daerah perlu segera menetapkan protokol kesehatan bagi masyarakat, seperti kewajiban memakai masker saat beraktivitas di luar rumah.
Jika kondisi makin memburuk, Yahya menilai langkah evakuasi warga ke tempat yang lebih aman juga perlu dipertimbangkan.
Menurutnya, penanganan di lapangan harus dilakukan secara terintegrasi dengan melibatkan tenaga medis, tenaga kesehatan, rumah sakit, serta bantuan logistik kesehatan.
"Kemenkes dan Pemda Kalbar perlu melakukan kordinasi untuk penanganan kasus ISPA yang melanda warga Kalbar dengan penyediaan tenaga medis, tenaga kesehatan dan rumah sakit serta bantuan masker untuk warga serta rumah oksigen," tuturnya.
Yahya juga meminta perhatian khusus diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Menurutnya, kelompok tersebut memiliki risiko lebih tinggi terkena dampak gangguan pernapasan akibat paparan asap karhutla.
Bila situasi terus memburuk, ia mendorong pemerintah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) di Kalbar agar langkah penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan terpadu.
Selain itu, Komisi IX DPR RI disebut akan melakukan kunjungan lapangan ke wilayah terdampak karhutla di Kalimantan. Tujuannya, untuk mengetahui kondisi di lapangan agar bisa memberikan rekomendasi kepada pemerintah.
"Kunjungan akan dilakukan pada tanggal 4-5 September 2026," ucap Yahya.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalbar mencatat jumlah kasus ISPA sudah mencapai angka ratusan ribu berdasarkan laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem tersebut dipakai untuk mendeteksi perubahan tren penyakit di masyarakat.
"Dari periode 1 Januari sampai 22 Agustus 2026 tercatat sebanyak 165.727 kasus ISPA yang dilaporkan melalui sistem alert kami," kata Kepala Dinkes Kalbar Erna Yulianti, dilansir detikKalimantan pada Sabtu (29/8).
Kenaikan mulai terlihat sejak minggu ke-21 atau akhir Mei 2026 dan terus berlanjut hingga pertengahan Agustus. Dari segi proporsi, ISPA dilaporkan mencapai 29 kasus per 1.000 penduduk.
Kondisi pada minggu ke-32 menjadi perhatian. Peningkatan kasus terlihat dari kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan seiring meningkatnya aktivitas hotspot di Kalbar.
"Terjadi peningkatan ISPA di fasilitas pelayanan kesehatan dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Artinya kunjungan masyarakat ke puskesmas lebih meningkat," ucap Erna.
(rti)

1 hour ago
6
















































