Cerita Bekas Pecandu yang Terlahir Kembali di Ruang ICU

3 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Jalur flyover Tanjung Barat, Jakarta Selatan, pada malam Ramadan 2025 ibarat jalanan menuju gerbang ajal bagi Tio (33).

Sebuah mobil MPV menyalip tajam dari sisi kanan sepeda motor Tio. Lewat kaca spion, ia sekelebat melihat siluet anak perempuan bersandar di jendela yang terbuka sebelum mobil itu menghantamnya.

Gubrak! Dunia pun seketika gelap gulita.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pembuluh darah di otaknya pecah. Di ruang ICU, tubuh Tio terkapar tak berdaya melewati tiga hari masa koma yang kritis.

Dokter memperingatkan Maria (63), sang ibu, bahwa jika pun selamat, Tio tidak akan pernah kembali ke kondisi semula.

Di luar ruangan, Angga (33), sahabat karibnya, dirundung pesimisme hebat; ia yakin betul akan kehilangan Tio untuk selamanya.

Namun takdir masih menyisakan skenario lain. Kecelakaan mengerikan itu justru menjadi hantaman keras yang menekan tombol factory reset atas seluruh hidup kelam Tio yang berjalan belasan tahun ke belakang.

Awalnya coba-coba

Jauh sebelum petaka di flyover itu terjadi, Tio adalah sosok yang sempurna di mata Angga. Mereka adalah sahabat masa kecil yang tumbuh bersama sejak sekolah dasar hingga lulus dari SMP dan SMA swasta Katolik bergengsi di Jakarta Selatan.

Tio adalah anak yang periang, pintar di kelas, memiliki jiwa seni melukis yang tinggi, dan jago bermain sepak bola. Di kelas, ia bahkan menjadi sosok yang dicemburui Angga karena selalu menonjol.

Tio tumbuh sebagai anak tunggal yang dibesarkan orang tua tunggal. Ayahnya pergi usai bercerai saat Tio berusia tiga tahun.

Tio kerap berpindah-pindah tempat tinggal di Jakarta bersama ibunya. Selepas SMA, ia merantau ke Bandung untuk kuliah hukum. Di sanalah, rasa kesepian sebagai anak tunggal mulai menggerogotinya.

"Aku ingin menjadi orang yang bebas aja waktu itu. Karena aku sendiri kan," kenang Tio saat ditemui CNNIndonesia.com di Jakarta, Kamis (18/6).

Untuk mengusir sepi, ia mulai mengenal dan coba-coba menghisap ganja, hingga rutin menjadi kebiasaan.

Tio hanya bertahan setahun di Bandung. Kuliahnya berantakan. Ia lantas dipaksa ibunya pindah kuliah ke Jakarta dan mengambil jurusan musik di sebuah kampus swasta elite di Tangerang.

Alih-alih membaik, atmosfer baru ini justru membuka gerbang kenakalan yang lebih dalam.

Dari ganja, Tio mulai bersentuhan dengan obat-obatan psikotropika Golongan IV seperti Dumolid dan Calmlet, hingga akhirnya mencicipi sabu. Tio bersama teman-teman kampusnya kerap memakai obat-obatan itu di dalam mobil di parkiran kampus.

Intensitasnya mengganas dari dua tablet menjadi enam tablet sehari. Kebiasaan ini menghancurkan perkuliahannya; selama empat semester berturut-turut, IPK Tio bertengger di angka nol koma nol.

Surat teguran dan panggilan orang tua dari kampus selalu ia robek. "Yang penting aku aman, dapat terus [uang saku]," akunya.

Hingga pada suatu hari di tahun 2013, sebuah telepon dari rumah sakit di Tangerang berdering di ponsel Maria, yang saat itu baru saja menjalani operasi kanker payudara stadium dua.

Pihak rumah sakit mengabari bahwa Tio kecelakaan menggunakan Vespa pinjaman rekannya. Tapi, bukan hanya kabar itu yang bikin Maria terkesiap. Pihak rumah sakit juga mengabari bahwa Tio positif narkoba.

Belum kering air mata Maria, pihak kampus menelepon memberitahu Maria hendak mengeluarkan Tio. Sambil menahan sakit kankernya, Maria merajuk dan memohon kepada pihak kampus hingga mereka iba dan memberikan kesempatan kedua.

Namun, Tio tak lagi bisa dikontrol. Perangainya berubah drastis menjadi sangat emosional. Angga bahkan pernah menyaksikan langsung suatu malam ketika situasi di rumah Tio memanas tanpa sebab yang jelas.

"Berantemnya sampai ancam untuk bunuh [ibunya]. Ya marah lah, yang gue enggak tahu sebabnya apa," kata Angga.

Saat Maria mencoba menegur perubahan sikap itu, Tio justru menyerang balik dan menyalahkan perceraian ibunya sebagai alasan mengapa dirinya tidak punya figur bapak.

"'Berarti kebohongan dong Mah. Dia bilang, kok sayang'," ujar Maria menirukan jeritan hati anaknya kala itu.

Sang mantan suami memang pernah berjanji sayang pada Tio sebelum pergi demi mencalonkan diri sebagai kepala desa di Medan, sebuah janji palsu tanpa tanggung jawab yang merusak kepribadian Tio.

Tahun 2014, Tio pindah lagi ke kampus ketiga, sebuah kampus seni bergengsi di Jakarta untuk jurusan perfilman. Bukannya insaf, ia justru kian jatuh ke lubang ketergantungan yang akut.

Tio terisolasi dari kehidupan sosial, mengurung diri di kamar kos, dan menghabiskan Rp700 ribu dari total Rp1 juta uang jajan mingguannya hanya untuk membeli sabu.

"Kalau tidak mengonsumsi itu, di kamar ngelamun. Padahal harus kuliah. Hilang arah. Aku enggak kenal aku," lirih Tio.

Dampaknya terlihat nyata pada awal 2016. Dalam sebuah pertemuan di kafe kawasan Jakarta Selatan, Angga melihat sahabat kecilnya itu sudah hancur total.

Tio hanya duduk dengan tatapan kosong, mengigau tanpa makna, sementara air liurnya menetes di ujung bibir yang diusap perlahan oleh Maria.

"Gue merasa bahwa, oh gue akan kehilangan sahabat lama gue. Hampir enggak ada kata-kata yang gue pahami," kata Angga pilu.

Menghadapi jalan hidup yang hancur dan mulai dijauhi keluarga besar yang malu, Maria berjalan sendirian menyeret Tio keluar masuk panti rehabilitasi hingga tiga kali.

Tahun 2018 menjadi ikhtiar terakhir mereka saat Tio dimasukkan ke panti rehab terkenal di kawasan Puncak, Cianjur.

Di sana, Tio dijebloskan ke sel jeruji besi berukuran 2x2 meter untuk proses detoksifikasi. Seminggu penuh, hidup Tio hanya diisi tidur, makan, dan marah-marah dengan emosi yang kacau.

Namun, di bulan kesembilan, Tio kabur karena tak betah. Maria akhirnya pasrah merawat proses pemulihan Tio di rumah dengan kondisi keuangan yang compang-camping.

Lanjut ke halaman berikutnya...

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Asia Sport| Info Olahraga | Daily News | |