Fenomena Perang Senjata Mainan Peluru Jeli Bikin Resah di Makassar

3 hours ago 3

Makassar, CNN Indonesia --

Fenomena 'tawuran' atau perang menggunakan senjata mainan berpeluru jeli di kalangan anak muda, khususnya remaja, membuat resah warga--terutama di Sulawesi Selatan--beberapa waktu terakhir.

Bertindak ala-ala 'gangster dalam gim komputer' anak-anak muda hingga remaja tanggung saling tembak pakai senjata mainan berpeluru bola-bola jeli.

Baru-baru ini situasi itu menjadi perhatian nasional setelah seorang polisi yang mencoba mengamankan situasi perang senjata mainan itu berujung penembakan yang menewaskan salah satu pemuda di Makassar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Iptu N, yang merupakan Kanit Reskrim Polsek Panakukang, kini harus menjalani proses etik dan pidana terkait tembakannya yang meletus berujung maut saat mengamankan tawuran senjata mainan peluru jeli pada MInggu (1/3) lalu.

Pascakasus itu, fenomena tawuran senjata mainan peluru jeli hingga berdampak pada warga sekitar ternyata masih saja terjadi di Sulsel. Salah satunya di Kabupaten Gowa-yang berjarak sekitar 50 km dari Makassar-seorang remaja usia 15 mengalami luka di bagian mata terancam buta setelah terkena tembakan dari senjata mainan berpeluru jeli.

Kejadian tersebut terjadi pada Kamis (5/3) sekitar pukul 21.30 Wita. Peristiwa bermula saat korban tengah bersama dengan sejumlah rekannya duduk santai di depan warung di Desa Lempangan, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa, kemudian datang sekelompok pengendara sepeda motor membawa senjata mainan tersebut.

Kelompok pemuda bermotor membawa senjata mainan itu langsung menembak ke arah korban hingga mengenai mata sebelah kanannya.

Unit Satreskrim Polres Gowa pun turun tangan untuk mengusut kasus tersebut.

"Iya, kami telah menerima laporan tersebut dan sementara dalam proses penyelidikan," kata Kanit Jatanras Satreskrim Polres Gowa, Ipda Aditya Pamungkas saat dikonfirmasi awak media, Jumat (6/3).

"Para pelaku ini melintas menggunakan sepeda motor. Setiap melihat kerumunan anak muda yang sedang duduk atau berkumpul, mereka langsung menembakkan peluru jeli secara membabi buta," tambahnya.

Akibat tembakan tersebut, korban langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

"Korban terkena peluru (jeli) di bagian bola mata sebelah kanan dan langsung dilarikan ke rumah sakit," jelasnya.

Kapolres Gowa, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman menegaskan akan menindak tegas para pelaku yang telah membahayakan masyarakat.

Menurut Aldy bahwa korban tidak memiliki masalah dengan para pelaku. Namun, tiba-tiba diserang sekelompok orang yang menggunakan senjata mainan berpeluru jeli tersebut.

"Korban tidak tahu menahu. Tiba-tiba saja sekelompok remaja datang dan menembaki mereka yang sedang duduk di lokasi. Saya perintahkan jatanras dan resmob serta kamneg Sat Intelkam Polres Gowa kejar pelaku sampai dapat," ujar Aldy.

Sementara itu di ibu kota provinsi Sulsel, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin mengaku pihaknya akan bekerja sama dengan pihak terkait untuk tidak membiarkan fenomena tawuran senjata mainan peluru jeli tidak terjadi lagi. Apalagi, sambungnya, setelah korban tewas Betrand Eka Prasetyo (18) tertembak polisi yang sedang membubarkan tawuran tersebut.

"Ini tidak boleh dibiarkan, permainan tembak-tembak tersebut harus ditangani secara serius oleh seluruh pihak," kata Appi kepada wartawan, Jumat (6/3).

Menurut Appi permainan tersebut menjadi sebuah fenomena saat Ramadan beberapa waktu terakhir. Dia mengatakan permainan perang-perangan senjata mainan berpeluru jeli itu berpotensi membahayakan warga sekitar dan mengganggu ketertiban umum.

"Penanganan dan pengawasan bersama, mulai dari pihak Kepolisian, pemerintah kecamatan hingga lingkungan keluarga RT/RW bertindak," ujarnya.

Meskipun hanya bersifat permainan, Appi menilai aksi tembak-tembakan dengan peluru tersebut jeli tetap memiliki potensi mencederai orang lain serta dapat memicu konflik maupun keresahan di tengah masyarakat.

"Jado, bukan cuma sekadar mainan. Kalau mencelakakan orang lain dan mengganggu ketertiban umum, tentu harus ada langkah tegas pihak kemanaan," jelasnya.

Selain dengan polisi dan aparat terkait, Appi juga meminta pihak orang tua berkolaborasi dengan cara mengawasi aktivitas anak-anak mereka, khususnya pada malam hari setelah Salat Tarawih.

"Peran keluarga sangat penting dalam mencegah anak-anak terlibat dalam permainan yang berisiko tersebut," katanya.

Peringatan DPRD

Mengutip dari detikSulsel, Ketua Komisi D DPRD Makassar, Ari Ashari pada Senin (3/2) lalu sudah mewanti-wanti perihal tren 'perang' senjata mainan terutama saat Ramadan.

"Ini kan kita ada ketua RT/RW, ada petugas-petugas TNI/Polri di bawah, ini harusnya dimaksimalkan untuk mereka mengegah dari sektor yang paling kecil seperti itu, memang senjata mainan, tapi ujungnya bisa tawuran atau perang kelompok, ini bisa jadi pemicu," ujar Ari.

Ari menyebut aktivitas tersebut kerap disertai pelanggaran lalu lintas dan tindakan yang memicu keributan, sehingga berpotensi berujung pada persoalan pidana. Menurut dia, fenomena itu memang identik terjadi pada bulan Ramadan.

"Anak-anak itu rata-rata kalau setelah tarawih sampainya sahur, itu banyak sekali lakukan konvoi-konvoi, pawai-pawai keliling," katanya.

Pada saat itu, Appi juga menilai permainan ini sudah di luar batas kewajaran karena dilakukan dengan saling kejar-kejaran pakai motor.

"Penggunaannya juga kadang-kadang sudah berlebihan, dipakai di atas motor tembak-tembak dari atas motor menurut saya ini persoalan yang tidak bisa dibiarkan, harus semua pihak harus mampu menahan," katanya.

Langkah pemda dan polisi

Sementara itu Kepolisian di Kota Makassar menyatakan bakal menindak tegas para pemain tembak-tembakan menggunakan senjata plastik yang kini viral karena bisa melukai dirinya dan membahayakan orang lain.

"Kalau ada kejadian serupa lagi, sesuai prosedur kalau ada akan kami bubarkan, akan kami halau, kalau perlu senjatanya akan kami sita," ujar Kombes Arya di Kota Makassar pada Rabu lalu, seperti dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan senjata plastik itu awalnya digunakan anak-anak bermain-main. Namun sering perkembangan senjata mainan ini viral bahkan digunakan remaja perang-perangan.

Peluru yang dipakai juga bisa menyakiti walau berbahan jeli.

"Peluru Omega ini kan gel atau jelly, jika kemudian dicelupkan ke air menjadi besar, dan ketika ditembakkan cukup sakit kalau jaraknya 3-5 meter begitu.Bahkan kemarin sudah ada ibu-ibu kena matanya, anak kecil juga kena mata sampai harus diperban," tutur Kapolres.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar tidak bermain-main senjata mainan tersebut, kecuali ada tempat khusus atau diperlombakan. Tetapi, kalau sudah bermain di jalanan sampai merugikan warga dan ketertiban umum terganggu, maka pasti ditindak.

"Ini sangat disayangkan, tentu akan menimbulkan ekses bukan hanya kecelakaan atau luka atau mungkin sampai meninggal dunia. Tetapi juga ada ekses pidana ketika itu sudah menyakitkan orang lain," katanya menekankan.

Di sisi lain, kepolisian yang mengambil sikap menjadi dilema, antara membubarkan saat mereka saling tembak-tembakan, atau menindak tegas dan terukur sebab ada konsekuensi hukumnya. Selain itu, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin terkait dengan penggunaan senjata mainan ini dijual secara bebas, namun belakangan menjadi masalah.

"Pak Wali Kota Insyaallah sudah berjanji akan membuat Perwali untuk masalah senjata-senjata Omega ini. Supaya tidak ada lagi yang secara bebas menggunakan senjata ini lalu menggunakannya untuk kepentingan mengganggu kamtibmas," katanya.

Alasannya, dari sejumlah video viral di media sosial, sekelompok remaja maupun pemuda setelah saling bertemu langsung perang tembak-tembakan bahkan berkelompok mengendarai motor tembak-tembakan di jalanan. Tentu ini membahayakan diri maupun orang lain sehingga perlu penindakan.

(mir/antara/kid)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Asia Sport| Info Olahraga | Daily News | |