Jakarta, CNN Indonesia --
Pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 Hijriah oleh warga Muhammadiyah pada Jumat (20/3) berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal dengan pemerintah, suasana ibadah tetap berjalan khidmat, bahkan diwarnai semangat kebersamaan dan toleransi.
Di Jakarta, Salat Id digelar di Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah serta sejumlah titik lain, termasuk Masjid Baitusy Syifa, RS Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur. Sejak pagi, jamaah sudah memadati area masjid hingga meluber ke halaman, trotoar, bahkan sebagian badan jalan.
Gema takbir berkumandang mengiringi kedatangan jamaah yang mengenakan pakaian terbaik dan membawa perlengkapan ibadah. Salat Id di lokasi ini juga diisi khutbah oleh Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pendidikan Seni Budaya dan Olahraga, Irwan Akib.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain menjadi momen ibadah, kegiatan ini turut menekankan pentingnya menjaga toleransi di tengah perbedaan penentuan hari raya.
Sementara itu di Bandung, ribuan jamaah memadati Lapangan Lodaya untuk melaksanakan Salat Id. Sejak subuh, arus kedatangan jamaah terus meningkat, menciptakan lautan manusia yang memenuhi area lapangan.
Antusiasme warga terlihat tinggi, mencerminkan semangat menyambut hari kemenangan.
Tak hanya pulau Jawa
Di Sumatera Barat, suasana Salat Id menghadirkan cerita berbeda. Ratusan warga Jorong Labuah, Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, melaksanakan salat di lapangan terbuka karena masjid mereka hancur akibat bencana galodo.
Lapangan yang digunakan sebelumnya merupakan tanah kosong yang diratakan menggunakan material sisa bencana. Alat berat masih tampak di sisi lokasi, menjadi saksi kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Warga datang sejak pukul 07.00 WIB, berjalan kaki melewati jalur berbatu, bahkan mendaki dan menuruni medan yang sulit.
Meski dalam keterbatasan, jamaah dari berbagai usia, mulai dari balita hingga lansia tetap antusias. Sebagian mengenakan pakaian terbaik, sementara lainnya langsung memakai mukena dari rumah.
Kebersamaan dan keteguhan terlihat jelas dalam pelaksanaan ibadah tersebut.
Di wilayah timur Indonesia, sekitar 1.000 warga Muhammadiyah di Kota Jayapura melaksanakan Salat Id di halaman Panti Asuhan Muhammadiyah Abepura, Distrik Abepura. Jamaah tidak hanya berasal dari Jayapura, tetapi juga dari daerah lain seperti Merauke dan Teluk Bintuni.
Pelaksanaan salat berlangsung lancar dan menjadi ajang silaturahmi lintas daerah, memperkuat ikatan antarwarga Muhammadiyah di Papua dan sekitarnya.
Sementara itu di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Salat Id digelar di tiga lokasi berbeda, yakni di Praya, Kopang, dan Mantang. Titik pelaksanaan meliputi halaman Kantor Muhammadiyah, Masjid Darul Falah, serta Masjid Darusalam Kecamatan Kopang.
Dalam khutbahnya, khatib mengingatkan bahwa Idulfitri bukan hanya milik satu golongan, melainkan seluruh umat Islam di dunia. Ia juga menekankan pentingnya menjaga ketakwaan pasca-Ramadan, memperkuat silaturahmi, serta merawat toleransi di tengah perbedaan.
Imbauan juga disampaikan kepada jamaah agar tetap menghormati umat Islam yang masih berpuasa mengikuti ketetapan pemerintah. Salah satunya dengan tidak makan dan minum secara mencolok di ruang publik.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Sabtu (21/3), berdasarkan hasil sidang isbat yang menyatakan hilal belum memenuhi kriteria visibilitas yang ditetapkan.
Perbedaan tersebut kembali menjadi dinamika tahunan. Namun, pelaksanaan Salat Id di berbagai daerah menunjukkan bahwa perbedaan tidak mengurangi kekhidmatan ibadah maupun semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
(tis/tis)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
4

















































