Jakarta, CNN Indonesia --
Seorang pegawai di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soekardjo, Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) mengundurkan diri buntut gelombang kritik publik terhadap tenaga kesehatan (nakes) yang mencibir unggahan Yurizal Tri Chaerawan, seorang pasien BPJS yang sebelumnya mengeluhkan waktu tunggu perawatan hingga delapan jam.
Pengunduran diri pegawai berinisial NZ itu pun dikonfirmasi Direktur RSUD dr Soekardjo, dr Budi Tirmadi.
Dia mengatakan, pihaknya telah menerima surat pengunduran diri dari warga Kecamatan Tamansari tersebut pada Kamis (6/8) pagi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi per hari ini sudah resmi mengundurkan diri tadi pagi," kata Budi, Kamis kemarin, dikutip dari detikJabar.
Manajemen rumah sakit kini tengah berkoordinasi dengan BKPSDM untuk menindaklanjuti status kepegawaian NZ. Secara administratif, NZ merupakan staf bagian administrasi dengan status PPPK Paruh Waktu yang telah bekerja selama lebih dari lima tahun.
"Kita lihat saja dan menunggu tindakan BKPSDM. Yang bersangkutan itu kerja sudah 5 tahun lebih, kalau diangkat PPPK Paruh Waktu kontraknya per September," ujar Budi.
Terkait alasan pengunduran diri, Budi menyebut faktor kesehatan menjadi poin utama yang disampaikan NZ dalam suratnya.
Namun, dia tak merinci apakah kondisi tersebut berkaitan dengan tekanan dari warganet atau hal lain terhadap nakes yang mencibir pasien BPJS Kesehatan. Budi juga memberikan klarifikasi untuk meluruskan persepsi publik mengenai profesi NZ di rumah sakit.
"Saya tidak bisa berbicara jauh dan itu alasan yang dikemukakan bersangkutan. Dan hari kemarin hari terakhir kerja," tuturnya. Ia menambahkan, "Perlu diklarifikasi bahwa yang bersangkutan itu bukan tenaga kesehatan tapi staf administrasi biasa,".
Sebelum memutuskan mundur, NZ sempat mengunggah video permintaan maaf melalui akun media sosial pribadinya. Dalam pernyataan tersebut, ia mengaku menyesal dan menyatakan kesiapan untuk menerima sanksi atas tindakannya yang memicu kegaduhan di ruang publik.
Kasus Yurizal sebelumnya ramai diperbincangkan setelah curhatannya di media sosial Threads viral. Pada 22 Juli 2026, melalui akun @yurizaltrich, Yurizal mengaku telah menunggu selama delapan jam untuk mendapatkan ruang rawat inap. Dalam unggahan tersebut, ia tidak menyebutkan rumah sakit tempat dirinya menjalani perawatan.
Unggahan tersebut kemudian mendapat beragam respons. Sejumlah komentar dari akun yang diduga milik dokter dan tenaga kesehatan justru dinilai tidak menunjukkan empati terhadap kondisi Yurizal.
Bahkan, terdapat komentar dari akun yang diduga dokter yang menyarankan Yurizal berpindah ke ruang jenazah agar lebih cepat mendapatkan tempat. Komentar lain juga menyinggung kondisi kesehatan dan penyakit serius dengan nada yang dinilai tidak pantas.
Komentar-komentar tersebut kembali menjadi sorotan setelah Yurizal Dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Informasi mengenai kematiannya disampaikan oleh seseorang yang mengaku sebagai kerabat Yurizal.
Berdasarkan penelusuran CNNIndonesia.com pada akun Threads, serta akun media sosial Instagram yang terkait, almarhum diduga berdomisili di Bogor, Jawa Barat.
Polemik tersebut kini turut ditangani Konsil Kesehatan Indonesia (KKI). KKI tengah menginvestigasi dugaan pelanggaran etik yang dilakukan sejumlah tenaga kesehatan terkait komentar mereka di media sosial.
Setidaknya 10 nama dokter hingga perawat telah diidentifikasi dalam proses investigasi. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena pemeriksaan terhadap dugaan pelanggaran etik masih berlangsung.
Kemenkes sebelumnya juga menyayangkan munculnya komentar dari tenaga medis maupun tenaga kesehatan yang dinilai minim empati terhadap pasien dan keluarganya. Pemerintah mengingatkan tenaga kesehatan untuk tetap menjaga etika dan profesionalisme, termasuk ketika menggunakan media sosial.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/kid)

7 hours ago
16














































