Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah Provinsi Bali mulai memperketat pengawasan kesehatan menyusul ancaman virus Influenza A (H3N2) subclade K atau yang populer disebut sebagai 'super flu'. Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus positif, kewaspadaan ditingkatkan hingga ke level Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, menegaskan bahwa langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dini.
"Kondisi di Bali saat ini sebenarnya masih aman, namun kami tetap waspada. Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk meningkatkan monitoring hingga ke tingkat Puskesmas," ujar Raka Susanti, Jumat (9/1) waktu setempat mengutip Antara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinas Kesehatan Bali saat ini terus memantau situasi melalui Early Alert Response System (SKDR). Jika sistem menangkap adanya lonjakan kasus influenza yang tidak wajar, petugas kesehatan akan langsung terjun ke lapangan.
Prosedur yang disiapkan meliputi:
• Verifikasi laporan dan penyelidikan epidemiologi.
• Kunjungan langsung ke wilayah terdampak.
• Konfirmasi kasus melalui pengujian laboratorium secara intensif.
Raka mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Menurutnya, tidak semua gejala flu adalah 'super flu'. Mengingat saat ini sedang terjadi transisi musim dan mobilitas masyarakat yang tinggi, banyak kasus flu yang ditemukan merupakan flu musiman biasa.
Sebagai destinasi wisata internasional, Bali diakui memiliki risiko transmisi yang cukup tinggi. Turis dari berbagai belahan dunia yang masuk ke Bali bisa menjadi jalur penyebaran virus yang menyerang sistem pernapasan ini.
Pasalnya, Influenza A dikenal menyebar sangat cepat melalui airborne droplets (percikan udara). Tantangannya, virus ini bisa dengan mudah mencapai wilayah pelosok dalam waktu singkat.
"Sebagai langkah pencegahan, kami bekerja sama dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) di pintu-pintu masuk Bali. Pemeriksaan suhu tubuh kembali diperketat karena salah satu gejala utamanya adalah demam tinggi," tambahnya.
Belajar dari pengalaman pandemi COVID-19, Raka memastikan bahwa infrastruktur kesehatan di Bali sudah sangat siap, baik dari segi peralatan maupun tenaga medis.
"Rumah sakit di Bali sudah siap. Kami memiliki 120 Puskesmas dan RSUD di seluruh kabupaten, ditambah lagi dengan dukungan rumah sakit swasta yang sangat aksesibel," jelasnya.
(tis/tis)

14 hours ago
5















































